Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan

Sistem Pendidikan Anak dan Hubungan Anak dengan Orang Tua (3)

Senin, 28 September 2009

Luqman bersama anaknya mengikuti langkah-langkah akidah setelah ia mengakar kuat dalam sanubari, setelah beriman kepada Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya.

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’” (12)

"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (13)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibuba panya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun ,. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (14)

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan(15)

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (16)

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (17)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalandan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (19) (Luqman/31 : 12 – 19)

Konteks surat melanjutkan kisahnya tentang nasihat Luqman kepada anaknya. Dan ternyata, Luqman bersama anaknya mengikuti langkah-langkah akidah setelah ia mengakar kuat dalam sanubari, setelah beriman kepada Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya, setelah meyakini akhirat tanpa ada keraguan terhadapnya, setelah meyakini keadilan balasan tanpa ada sesuatu yang luput darinya meskipun seberat biji sawi. Adapun langkah selanjutnya adalah tawajjuh kepada Allah dengan shalat, dan tawajjuh kepada manusia dengan mengajak mereka kepada Allah dan sabar menjalankan tugs-tugas dakwah dan keletihan-keletihannya yang harus diterima.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (17)

Inilah jalan akidah yang telah digariskan. Mengesakan Allah, merasakan pengawasan-Nya, mencari ridha-Nya, meyakini keadilan-Nya, dan takut akan hukuman-Nya. Lalu beralih kepada dakwah dan membenahi urusan mereka, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengumpulkan bekal yang orisinil sebelum melakukan peperangan melawan kejahatan, yaitu bekal ibadah kepada Allah dan tawajjuh kepada-Nya dalam shalat. Lalu disusul dengan sabar terhadap apa saja yang dialami da’i, yaitu jiwa yang menyimpang, hati yang keras dan berpaling, penganiayaan lisan dan tangan, ujian harta dan bahkan nyawa jika diperlukan. “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” Kata ‘azmul-umur berarti menempuh perjalanan dengan tekad bulat.

Luqman melanjutkan nasihatnya yang dituturkan al-Qur’an ini tentang adab da’i, karena dakwah kepada kebaikan tidak memperbolehkan sikap sombong terhadap manusia dan perkataan kasar atas nama menuntun mereka kepada kebaikan. Apalagi kesombongan dan perkataan kasar yang bukan untuk menyerukan kebaikan, maka itu lebih buruk dan lebih hina.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai..” (18-19)

Kata sha’r berarti penyakit yang menjangkiti unta sehingga mengakibatkan lehernya terpelintir. Gaya bahasa al-Qur’an memilih ungkapan ini agar orang-orang menghindari gerakan yang menyerupai penyakti sha’r, yaitu gerakan sombong, angkuh, dan memalingkan wajah karena takabur!
Berjalan di bumi secara angkuh adalah berjalan dengan berlagak, bersiul-siul, dan kurang peduli terhadap orang lain. Ini adalah gerakan yang dibenci dan dimurkai Allah, serta dibenci manusia. Kalimat ini mengungkapkan perasaan yang sakit mental dan cara jalan orang-orang yang sombong!

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri..” (18)

Larangan berjalan dengan angkuh ini disertai penjelasan tentang cara jalan yang seimbang. “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan..” Kata aqshid berarti sedang-sedang, tidak berlebihan, tidak berlambat-lambat, tidak berlagak, dan tidak angkuh, melainkan berjalan dengan sedang-sedang, sederhana, dan lepas.

Melunakkan suara menunjukkan adab, percaya diri, dan yakin akan kejujuran dan kekuasaan pembicaraannya. Tidak ada yang berbicara dengan berteriak dan keras kecuali orang yang buruk etikanya, atau meragukan nilai ucapannya, atau meragukan nilai pribadinya. Ia berusaha menutupi keragukan ini dengan gaya serius, suara keras, dan memekik.

Gaya bahasa al-Qur’an merendahkan dan menilai buruk perbuatan ini dalam sebuah gambaran yang membuat orang menghindari, memandang rendah, dan jijik, saat al-Qur’an mengulasnya dengan kalimat, “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai..” (19)

Maka, terlukislah sebuah pemandangan yang menggelikan dan mengundang tawa dan cemooh, juga rasa jijik dan pandangan buruk. Seseorang yang memiliki perasaan tidak membayangkan pemandangan yang menggelikan di balik ungkapan yang indah ini, lalu ia berusaha meniru sedikit dari suara keledai ini!
Demikianlah. Putaran kedua ini berakhir setelah ia menangani masalah pertama, dengan diversifikasi pemaparan dan pembaharuan metode.

Sistem Pendidikan Anak dan Hubungan Anak dengan Orangtua (2)

Al-Qur’an mengarahkan untuk bersyukur kepada Allah sebagai pemberi nikmat yang pertama, dan kepada kedua orangtua sebagai pemberi nikmat yang yang kedua.

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’” (12)

"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (13)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibuba panya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun ,. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (14)

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan(15)

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (16)

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (17)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalandan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (19) (Luqman/31 : 12 – 19)

Di bawah naungan gambaran yang lembut itu, al-Qur’an mengarahkan untuk bersyukur kepada Allah sebagai pemberi nikmat yang pertama, dan kepada kedua orangtua sebagai pemberi nikmat yang yang kedua. Al-Qur’an menyusun kewajiban-kewajiban, dimana syukur kepada Allah disebut terlebih dahulu, lalu disusul dengan syukur kepada kedua orangtua. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu..” Lalu al-Qur’an menghubungkan hakikat ini dengan hakikat akhirat: “Hanya kepada-Kulah kembalimu..” dimana bekal syukur yang disimpan itu bermanfaat.

Teatpi, hubungan kedua orangtua dengan anak—bagaimana pun emosi dan kemuliaannya—dalam urutannya berada sesudah pertalian akidah. Karena nasihat selanjutnya kepada manusia menyangkut hubungannya dengan kedua orangtuanya adalah: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..” Sampai di sini gugur kewajiban taat, dan pertalian akidah mengalahkan segala pertalian yang lain. Meskipun kedua orang tua mengerahkan tenaga, usaha keras, paksaan, dan persuasi untuk membujuk anak supaya menyekutukan Allah dengan apa-apa yang memang tidak memiliki uluhiyyah, maka ia diperintahkan oleh Allah untuk tidak taat, karena Allah adalah pemegang hak pertama untuk ditaati.

Tetapi, perbedaan akidah dan perintah untuk tidak taat dalam menyalahi akidah itu tidak menggugurkan hak orangtua untuk memperoleh pergaulan yang baik: “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik..” Jadi, itu adalah perjalanan singkat di bumi yang tidak mempengaruhi hakikat yang orisinil: “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku..” yaitu orang-orang yang beriman. “Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu..” setelah perjalanan di bumi yang terbatas. “Maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (15) Masing-masing memperoleh balasan atas kufur atau syukur, serta syirik atau tauhid yang dikerjakannya.

Diriwayatkan bahwa ayat ini, juga sebuah ayat dalam surat al-’Ankabur dan al-Ahqaf, turun berkenaan dengan Sa’d bin Abu Waqqash dan ibunya (sebagaimana telah penulis jelaskan penafsirannya dalam surat al-’Ankabut). Dan riwayat lain mengatakan bahwa ia turun berkenaan dengan Sa’d bin Malik. Thabrani di dalam kitab Pergaulan meriwayatkan dengan sanadnya dari Dawud bin Abu Hindun.

Sementara kisah tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari hadits Sa’d bin Abu Waqqash, dan riwayat inilah yang paling kuat. Namun, indikasinya mencakup setiap kondisi yang serupa. Jadi, al-Qur’an membuat prioritas bagi pertalian dan hubungan, sebagaimana ia membuat prioritas bagi berbagai kewajiban dan taklif. Pertalian di jalan Allah adalah pertalian yang pertama, dan taklif berkaitan dengan hak Allah menjadi kewajiban yang pertama. Al-Qur’an al-Karim menetapkan kaidah ini dan menegaskannya di setiap kesempatan dan dalam berbagai gambaran agar ia mengakar dalam sanubari seorang mukmin secara jelas, tegas, tidak ada kerancuan dan kesamaran di dalamnya.

Setelah pemaparan yang panjang dalam konteks nasihat Luqman kepada anaknya, maka dilanjutkan dengan paragraf kedua tentang nasihat, untuk menetapkan perkara akhirat beserta hisab yang detil dan balasan yang adil di dalamnya. Tetapi, hakikat ini tidak dipaparkan secara abstrak, melainkan di paparkan di dalam ruang kauni yang luas, dan dalam gambaran yang berkesan dan menggetarkan emosi saat ia merasakan pengetahuan Allah yang komprehensif, besar, cermat, dan halus.

“(Luqman berkata), ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.’” (16)

Tidak ada satu ungkapan pun yang bisa menjangkau detil dan komprehensifnya pengetahuan Allah, kekuasaan Allah Subhanah, serta detilnya hisab dan keadilan kriteria seperti yang dijangkau oleh ungkapan yang deskriptif ini. Ini adalah kelebihan metode al-Qur’an yang mu’jiz, indah penuturannya, dan dalam iramanya. Satu biji sawi, kecil, terabaikan, tidak memiliki bobot dan nilai. “Dan berada dalam batu..” Terselip, terkurung di dalamnya, tidak tampak, dan tidak bisa dicapai. “Atau di langit..” Di dalam entitas yang besar dan terang, dimana bintang yang sangat besar tampak seperti titik yang melayang-layang atau seperti atom yang terbang tak tentu arah. “Atau di bumi..” Ia hilang di tanah dan debunya, tanpa bisa dideteksi. “Niscaya Allah akan mendatangkannya..” Pengetahuan Allah menjangkau biji sati itu, dan kekuasaan-Nya tidak meluputkannya. “Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Mengenal..” Ini adalah ulasan yang serasi dengan pemandangan yang tersembunyi dan halus.

Imajinasi senantiasa menelusuri biji sawi itu di tempatnya yang dalam dalam luas, serta merenungkan pengetahuan Allah yang menjangkaunya, sehingga hati menjadi khusyuk dan kembali kepada Yang Mahahalus lagi Maha Mengenal perkara-perkara ghaib yang tersembunyi. Di balik itu, hakikat yang hendak ditetapkan al-Qur’an itu mengakar dalam hati, dengan cara yang menakjubkan ini.

Sistem Pendidikan Anak dan Hubungan Anak dengan Orangtua (1)

Al-Qur’an memaparkan hubungan antara orangtua dan anak dalam gaya bahasa yang lembut, dan melukiskan hubungan ini secara inspiratif, sarat emosi/perasaan dan kelembutan.


وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’” (12)

"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (13)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibuba panya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun ,. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (14)

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan(15)

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (16)

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (17)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalandan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (19) (Luqman/31 : 12 – 19)

Ada perbedaan riwayat tentang siapa sebenarnya Luqman yang dipilih al-Qur’an untuk menyampaikan masalah tauhid dan akhirat melalui lisannya. Sebagian mengatakan bahwa ia adalah seorang Nabi, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa ia hanyalah seorang hamba yang saleh. Mayoritas berpegang pada pendapat kedua.

Sebuah sumber mengatakan ia berdarah Habsyi, sumber lain mengatakan berdarah Naubi, dan sumber yang lain mengatakan bahwa dia adalah salah seorang qadhi di kalangan Bani Israil. Siapapun Luqman, al-Qur’an menetapkan bahwa dia adalah seorang laki-laki yang diberi hikmah (wisdom) oleh Allah. Hikmah yang di antara kandungan dan implikasinya adalah syukur kepada Allah: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah!’” Ini adalah instruksi implisit Qur’ani untuk bersyukur kepada Allah dengan meneladani orang yang bijak dan terpilih untuk menyampaikan kisah dan ucapannya. Selain instruksi yang bersifat implisit ini, ada pula instruksi lain. Jadi, syukur kepada Allah itu merupakan tabungan dan kelak akan bermanfaat bagi orang yang melakukannya sendiri, karena Allah Mahamandiri terhadap syukur. Allah terpuji dengan sendiri-Nya, meskipun tidak satu makhluk-Nya yang memuji-Nya. “Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’” Jadi, yang paling bodoh di antara orang-orang bodoh adalah orang yang menyalahi hikmah dan tidak menyimpan bekal semacam ini untuk dirinya.

Setelah itu dipaparkan masalah tauhid dalam bentuk nasihat dari Luqman al-Hakim kepada putranya.
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’” (13)

Sungguh, ini merupakan nasihat yang tidak dicurigai memuat maksud yang tidak baik, karena seorang ayah tidak menghendaki apapun bagi anaknya selain kebaikan; dan yang harus dilakukan ayah kepada anaknya adalah menasihati. Luqman al-Hakim melarang anaknya berbuat syirik, dan memberi alasan terhadap larangan ini bahwa syirik merupakan kezhaliman yang besar. Ia menegaskan hakikat ini dua kali. Pada satu saat dengan mendahulukan larangan dan merinci alasannya, dan pada saat yang lain dengan kata inna (sesungguhnya) dan la (benar-benar). Inilah hakikat yang disampaikan Muhammad saw kepada kaumnya, lalu mereka mendebatnya, meragukan tujuan di balik pemaparannya. Mereka takut jika tujuannya adalah untuk merampas kekuasaan dari tangan mereka dan menjadi lebih terhormat daripada mereka!

Lalu, apa yang mereka katakan sedangkan Luqman al-Hakim menyampaikan nasihat itu dan memerintahkannya kepada anaknya? Bukankah nasihat ayah kepada anak itu bersih dari setiap keraguan dan jauh dari setiap persangkaan? Ketahuilah, ini adalah hakikat klasik yang meluncur dari lisan setiap orang yang diberi hikmah oleh Allah; tujuannya adalah kebaikan semata, tidak lain. Inilah stimulasi psikologis yang dimaksud.

Di bawah naungan nasihat ayah kepada anaknya, al-Qur’an memaparkan hubungan antara orangtua dan anak dalam gaya bahasa yang lembut, dan melukiskan hubungan ini secara inspiratif, sarat emosi/perasaan dan kelembutan. Meskipun demikian, hubungan akidah harus dikedepankan daripada hubungan yang erat tersebut.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (14-15)

Nasihat kepada anak untuk berbakti kepada orangtua sering diulang di dalam al-Qur’an al-Karim dan pesan-pesan Rasulullah saw. Sedangkan nasihat kepada orangtua untuk berbuat baik kepada anak itu sangat sedikit. Sebagian besarnya dalam kasus mengubur anak hidup-hidup—dan itu adalah kasus khusus pada kondisi tertentu. Yang demikian itu karena fitrah semata telah menjamin orangtua untuk mengayomi anaknya. Fitrah terdorong mengayomi generasi baru untuk menjamin keberlangsungan kehidupan sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Orangtua pasti mau mengorbankan jiwa, raga, usia, dan segala miliknya yang berharga untuk anaknya, tanpa berkeluh kesah, bahkan tanpa menyadari dan merasakan apa yang telah dikorbankannya! Bahkan dalam suasana yang semangat, gembir, dan senang, seolah-olah orangtua-lah yang mengambil manfaat dari anak! Jadi, fitrah semata telah menjamin nasihat untuk orangtua, tanpa memerlukan nasihat lain! Sedangkan anak membutuhkan nasihat yang berulang-ulang agar ia memperhatikan generasi yang telah berkorban, mendidik, mengayomi, dan telah sampai di senja kehidupannya, setelah ia mengorbankan usia, jiwa, dan raganya untuk generasi yang menuju masa depan kehidupan!

Seorang anak tidak mampu dan tidak sampai mengganti apa yang telah dikobarkan orangtua, meskipun ia menghibahkan usianya untuk keduanya. Dan inilah gambaran yang inspiratif: “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. ” Gambaran ini memberi naungan tentang pengorbanan yang luar biasa. Sudah barang tentu ibu menanggung bagian yang lebih besar, dan berbuat baik kepada anaknya dalam emosi yang lebih besar, lebih dalam, lebih hangat, dan lebih lembut. Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar dalam Musnad-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Buraid, dari ayahnya, bahwa ada seorang laki-laki thawaf sambil menggendong ibunya untuk thawaf bersama.

Lalu ia bertanya kepada Nabi saw, “Apakah laki-laki itu telah membayar hak ibunya?” Beliau menjawab, “Tidak, meskipun untuk satu keluhan nafas yang panjang.” Demikianlah, meskipun untuk satu keluhan nafas yang panjang, baik saat kehamilan atau dalam persalinan. Ibu mengandungnya dalam keadaan yang bertambah-tambah

Esensi Kebenaran Dan Kebatilan (3)

Para Rasul mulia itu tidak menerima untuk melebur di dalam perhimpunan jahiliyah dan larut di dalamnya.

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى قَالُواْ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَآؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ ﴿١٠﴾
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِن نَّحْنُ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللّهَ يَمُنُّ عَلَى مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَن نَّأْتِيَكُم بِسُلْطَانٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَعلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١١﴾
وَمَا لَنَا أَلاَّ نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ ﴿١٢﴾

Para Rasul mulia itu tidak menerima untuk melebur di dalam perhimpunan jahiliyah dan larut di dalamnya. Mereka tidak mau kehilangan watak perhimpunan khusus mereka. Perhimpunan yang berpijak pada fondasi yang berbeda dengan fondasi perhimpunan jahiliyah. Mereka tidak berkata seperti yang dikatakan orang-orang yang tidak memahami hakikat Islam dan hakikat komposisi organisasional masyarakat, “Baiklah! Kami akan melebur dalam agama mereka agar kami bisa menjalankan dakwah kami dan melayani akidah kami melalui mereka!”

Pemisahan diri Islam dengan akidahnya dari masyarakat jahiliyah itu pasti diikuti dengan pemisahan dirinya dengan komunitas Islaminya, kepemimpinannya, dan loyalitasnya. Tidak ada pilihan dalam hal ini. Ini adalah sebuah kepastian di antara kepastian-kepastian pembentukan organisasi bagi masyarakat. Pembentukan yang menjadikan perhimpunan jahiliyah sangat sensitif terhadap dakwah Islam yang berdiri di atas fondasi ‘ubudiyyah manusia kepada Allah semata; dan menyingkikan tuhan-tuhan palsu dari pusat kepemimpinan dan kekuasaan. Sebagaimana ia menjadikan setiap anggota muslim yang larut dalam masyarakat jahiliyah itu sebagai pelayan bagi perhimpunan jahiliyah, bukan pelayan bagi Islamnya, sebagaimana dugaan sebagian orang-orang yang tertipu!

Kemudian masih ada hakikat yang besifat takdir yang seyogianya tidak dilupakan para da’i dalam semua kondisi, yaitu bahwa realisasi janji Allah berupa kemenangan dan kedudukan yang kuat bagi wali-wali-Nya; pemutusan perkara di antara mereka dengan haq itu tidak terjadi kecuali sesudah para juru dakwah itu memisahkan diri; dan sesudah mereka meninggalkan kaumnya atas dasar kebenaran yang ada pada mereka. Jadi, keputusan dari Allah itu tidak terjadi saat para juru dakwah melebur dalam masyarakat jahiliyah, dan larut dalam tatanan-tatanannya, dan bekerja di dalam formalitas-formalitasnya. Setiap jarak waktu yang digunakan untuk larut sedemikian rupa berarti jarak waktu menunda janji kemenangan dan kedudukan dari Allah. Ini adalah tanggungjawab besar yang wajib direnungkan oleh para pelaku dakwah jika mereka sadar dan menghitung.

Terakhir, mari kita renungkan keindahan pemaparan al-Qur’an tentang parade iman saat ia menghadapi jahiliyah jahiliyah yang sesat di sepanjang zaman, keindahan kebenaran yang fitri, sederhana, jelas, mendalam, sarat keyakinan dan ketentraman, serta kokoh dan mantap.

“Berkata rasul-rasul mereka, ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan) mu sampai masa yang ditentukan?’” (10)

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, ‘Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (11)

Keindahan yang mengagumkan ini muncul dari pemaparan yang menjadikan para Rasul itu sebagai parade yang integral dalam menghadapi jahiliyah yang integral; melukiskan hakikat abadi di balik situasi dan kondisi yang berubah-ubah; menampilkan ciri-ciri yang unik bagi dakwah yang diusung pada Rasul dan bagi jahiliyah yang mengahdapi mereka, di balik ruang dan waktu, dan di balik ras dan bangsa!
Kemudian keindahan ini tampak pada pengungkapan hubungan antara kebenaran yang dibawa oleh dakwah para Rasul mulia, dan kebenaran yang tersimpan dalam entitas alam semesta ini.
“Berkata rasul-rasul mereka, ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’” (10)

“Mengapa Kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami..” (12)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti (mu) dengan makhluk yang baru..” (19)

Demikianlah hubungan yang mendalam antara kebenaran di dalam dakwah ini dan kebenaran yang tersimpan di dalam seluruh wujud. Tampak bahwa ia merupakan satu kebenaran yang terhubung dengan Allah yang Haq, mantap, kokoh, dan mendalam akar-akarnya, “seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit..” dan bahwa selainnya adalah kebatilan yang pasti lenyap, “seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”

Demikianlah, keindahan itu tercermin dalam perasaan para Rasul akan hakikat Allah Tuhan mereka dan hakikat uluhiyyah; sebagaimana ia tampak jelas pada hati kelompok pilihan di antara hamba-hamba-Nya:
“Mengapa Kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (12)

Seluruhnya merupakan potret tentang keindahan menakjubkan yang tidak bisa dijangkau bahasa manusia kecuali sekedar memberi isyarat seperti menunjuk kepada bintang yang jauh. Isyarat telunjuk itu tidak menjangkaunya, melainkan sekedar mengarahkan perhatian orang-orang ke arahnya.

Esensi Kebenaran Dan Kebatilan (2)

Parade Rasul-Rasul mulia itu menghadapi umat manusia yang sesat dengan satu dakwah dan dengan satu akidah.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24), pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25). Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (26) “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki..” (27)


Sesungguhnya keyakinan tentang Allah yang Maha Esa itu dibawa oleh risalah-risalah sejak fajar Islam. Hakikat ini tidak berubah dan tidak berganti dalam satu risalah pun, dan tidak pula dalam satu agama satu pun, sebagaimana yang dituturkan Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengenal kepada kita.

Seandainya para ‘ahli’ itu mengatakan bahwa penerimaan umat manusia terhadap akidah tauhid yang dibawa oleh para Rasul itu meningkat dari satu zaman kerasulan ke zaman kerasulan yang lain, dan bahwa paganisme jahiliyah itu terpengaruh oleh akidah tauhid yang konstan dimana parade para Rasul mulia itu menghadapkannya kepada ajaran-ajaran pagan itu dari waktu ke waktu, hingga datang masa dimana akidah tauhid lebih banyak diterima oleh masyarakat umum daripada sebelumnya, karena bertubi-tubinya risalah-risalah tauhid ini, dan karena faktor-faktor lain…Seandainya para ‘ahli’ itu menyatakan pendapat seperti ini, maka boleh-boleh saja. Tetapi, mereka terpengaruh oleh metode penilitan yang sejak awal didasari oleh permusuhan sengit dan klasik oleh gereja di Eropa—meskipun tidak disadari oleh para ulama kontemporer. Juga berangkat dari keinginan tersembunyi—sadar atau tidak sadar—untuk menghancurkan manhaj agama dalam berpikir, dan menetapkan bahwa agama itu bukan wahyu dari sisi Allah, melainkan ijtihad manusia, dimana sifat yang melekat padanya itu sama seperti sifat perkembangan mereka dalam pemikiran, pengalaman, pengetahuan ilmiah. Dari permusuhan laten dan dari keinginan tersembunyi inilah lahir ilmu perbandingan agama. Meski demikian, ia disebut ‘ilmu’ yang mengecoh banyak orang!

Kalau pun seseorang dapat terkecoh oleh ‘ilmu’ semacam ini, maka tidak sepatutnya hal itu terjadi pada seorang Muslim yang percaya kepada agamanya dan menghormati manhaj agama ini dalam menetapkan hakikat semacam ini. Dan tidak sepatutnya ia mengeluarkan pendapat yang berbenturan secara langsung dengan ketetapan-ketetapan agamanya, dan dengan manhajnya yang jelas di dalam masalah yang krusial ini.

Jadi, parade Rasul-Rasul mulia itu menghadapi umat manusia yang sesat dengan satu dakwah dan dengan satu akidah. Begitu juga, jahiliyah itu menghadapi parade mulia, satu dakwah, dan satu akidah itu dengan satu perlawanan—seperti yang dipaparkan konteks surat dengan mengesampingkan aspek ruang dan waktu, dan menampilkan satu hakikat yang terhubung di balik ruang dan waktu. Sebagaimana dakwah para Rasul itu tidak berganti, maka begitu juga perlawanan jahiliyah itu tidak berganti!

Sungguh, ini merupakan sebuah hakikat yang benar-benar menuntut perhatian! Sesungguhnya jahiliyah tetaplah jahiliyah di sepanjang zaman. Jahiliyah bukan periode waktu, melainkan sebuah tatanan, keyakinan, konsepsi, dan perhimpunan organisasional yang berasaskan elemen-elemen ini.

Pada mulanya jahiliyah berdiri di atas prinsip kepatuhan hamba kepada sesama hamba, menuhankan selain Allah, atau memberikan rububiyyah kepada selain Allah—keduanya sama-sama melahirkan jahiliyah. Jadi, sama saja antara keyakinan itu berpijak pada politheisme, atau berpijak pada pengesaan satu Ilah (sesembahan) dengan disertai banyak rabb (tuhan sebagai pengatur). Keduanya melahirkan jah dengan setiap karakteristik sekundernya yang lain!

Dakwah para Rasul itu berpijak pada prinsip mengesakan Allah dan menyingkirkan tuhan-tuhan yang palsu, memurnikan agama untuk Allah—maksudnya memurnikan ketaatan kepada Allah, memonopolikan rububiyyah bagi-Nya (baca: hakimiyyah dan kekuasaan). Dari sini, ia berbenturan langsung dengan fondasi yang menjadi pijakan jahiliyah; dan eksistensinya menjadi ancaman bagi eksistensi jahiliyah. Khususnya ketika dakwah Islam termanifestasi dalam sebuah perhimpunan khusus, yang mengambil individu-individunya dari perhimpunan jahiliyah; dan membawa mereka memisahkan diri dari jahiliyah dari segi keyakinan, kepemimpinan, dan loyalitas. Sesuatu yang pasti terjadi pada dakwah Islam di setiap ruang dan waktu.

Ketika perhimpunan jahiliyah—dalam kapasitasnya sebagai satu entitas keanggotaan yang saling meneguhkan—itu merasakan bahaya yang mengancam fondasi eksistensinya dari segi keyakinan, sebagaimana eksistensinya itu sendiri terancam oleh manifestasi akidah Islam dalam perhimpunan yang berbeda dan terpisah darinya, serta berhadapan dengannya, maka pada saat itu perhimpunan jahiliyah akan menyingkap hakikat sikapnya terhadap dakwah Islam!

Itulah peperangan antara dua eksistensi yang tidak mungkin ada perdamaian atau toleransi di antara keduanya! Peperangan di antara dua perhimpunan organik yang salah satunya berpijak pada fondasi yang berlawanan sepenuhnya dengan fondasi perhimpunan yang lain. Karena perhimpunan jahiliyah berpijak pada fondasi monotheisme, atau banyak tuhan, sehingga dengan demikian para hamba itu tunduk kepada sesama hamba, sementara perhimpunan Islami berpijak pada fondasi keesaan uluhiyyah dan rububiyyah, sehingga dengan demikian para hamba tunduk kepada sesama hamba.

Ketika perhimpunan Islam mengambil enegeri setiap hari dari tubuh perhimpunan jahiliyah pada awal fase saat dalam periode pembentukan, kemudian sesudah itu ia harus berhadapan dengan perhimpunan jahiliyah untuk merebut kendali darinya dan mengeluarkan semua manusia dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada ‘ubudiyyah kepada Allah semata, ketika semua ini merupakan keniscayaan yang pasti terjadi ketika dakwah Islam berada di jalurnya yang benar, maka jahiliyah tidak bisa menerima dakwah Islam sejak pertama. Dari sini kita memahami mengapa perlawanan jahiliyah terhadap dakwah para Rasul mulia itu satu dan sama! Yaitu perlawanan untuk membela diri dari pengeroposan, dan perlawanan untuk membela hakimiyyah (hak membuat aturan) yang merupakan karakteristik uluhiyyah yang dirampas oleh para hamba di dalam jahiliyah!

Apabila demikian ini perasaan jahiliyah terhadap bahaya dakwah Islam, maka dakwah ini telah menghadap peperangan hidup dan mati, tidak ada toleransi, gencatan senjata, dan perdamaian di dalamnya! Jahiliyah tidak mau menipu diri sendiri tentang hakikat peperangan ini. Begitu juga para Rasul mulia shalawatullah wasalamuhu ‘alaihim tidak menipu diri sendiri mengenai hakikat peperangan.
“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka, ‘Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.’” (13)

Jadi, mereka tidak bisa menerima jika para Rasul dan orang yang beriman bersama mereka itu memisahkan diri dengan akidah, kepemimpinan, dan perhimpunan khusus mereka. Mereka hanya meminta para Rasul dan orang-orang mukmin itu untuk kembali ke agama mereka, melebur di dalam perhimpunan mereka, dan larut di dalamnya, atau mereka akan mengusir para Rasul dan orang-orang mukmin itu dari negeri mereka.

Esensi Kebenaran dan Kebatilan (1)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24), pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25). Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (26) “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki..” (27)

Sesungguhnya pemandangan tentang “kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya di langit. Dan pemandangan “kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak sedikit pun”, sesungguhnya kedua pemandangan tersebut bersumber dari konteks surat, dari kisah para Nabi dan orang-orang yang mendustakan, dan dari kesudahan kedua golongan tersebut secara khusus. Pohon kenabian dan naungan Ibrahim sebagai bapaknya para Nabi sangat jelas gambarannya di sini. Pohon tersebut menghasilkan buahnya setiap waktu. Buah yang segar dan baik. Seorang Nabi di antara para Nabi. Ia membuahkan iman, kebaikan, dan vitalitas.

Tetapi, perumpamaan ini—di luar keserasiannya dengan suasana surat dan suasana kisah—lebih jauh cakrawalanya daripada keserasian tersebut, lebih luas ranahnya, dan lebih dalam hakikatnya.

Sesungguhnya kalimat yang baik—kalimat kebenaran—itu benar-benar seperti pohon yang baik. Ia kokoh, menjulang tinggi, dan berbuah. Ia kokoh tanpa bisa digoyahkan badai, tidak bisa dirobohkan angin kebatilan, dan tidak mempan cangkul kesewenang-wenangan—meskipun sementara orang membayangkan bahwa pohon tersebut menghadang bahaya yang besar pada sebagian kesempatan. Ia menjulang tinggi, menuasai kejahatan, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan dari atas—meskipun sementara orang berimajinasi bahwa kejahatan dapat menerpanya di udara. Ia juga berbuah dan buahnya itu tidak pernah berhenti, karena akar-akarnya tumbuh di dalam jiwa-jiwa terus berkembang dari waktu ke waktu.

Dan sesungguhnya kalimat yang buruk—kalimat kebatilan—itu benar-benar seperti pohon yang buruk. Terkadang ia membesar, meninggi, dan berjalinan; dan sementara orang membayangkan bahwa ia lebih besar dan lebih kuat daripada pohon yang baik. Tetapi, ia tercerai berai, ramuk, akar-akarnya berada di dalam tanah yang dangkal hingga seolah-olah berada di permukaan tangan. Keberadaannya hanya sementara, kemudian ia dicabur dari permukaan tanah, sehingga ia tidak dapat tegak sedikit pun.

Ini bukan sekedar perumpamaan, dan bukan hiburan dan motivasi bagi orang-orang yang baik, melainkan sebuah realitas dalam kehidupan, meskipun realisasinya terlambat pada sebagian kesempatan.

Kebaikan yang mengakar itu tidak mati dan tidak layu, meskipun keburukan menerpanya dan tergilas di jalanan. Demikian pula, keburukan itu tidak bisa hidup kecuali untuk sekedar menghabiskan sebagian kebaikan yang melekat padanya—karena memang sedikit ditemukan keburukan yang murni. Ketika ia telah menghabiskan kebaikan yang melekat padanya sehingga tidak ada lagi sisa kebaikan di dalamnya, maka ia pun runtuh dan hancur lebut, meskipun ia besar dan tinggi.

Kebaikan tetaplah kebaikan, dan keburukan tetaplah keburukan!

“Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. ” (25)
Jadi, ini adalah perumpamaan yang benar-benar terbukti di bumi, tetapi manusia sering melupakannya di tengah himpitan hidup.

Di bawah naungan pohon yang kokoh, dimana ungkapan ikut serta melukiskan arti kekokohan dan suasananya, dimana ungkapan melukiskannya: akarnya kokoh dan mantap di bumi, cabangnya tinggi dan menjual di langit sejauh mata memandang, dan berdiri di tepan untuk untuk memberi inspirasi tentang kekuatan dan kemantapan.

Di bawah naungan pohon yang kokoh sebagai perumpamaan tentang kalimat yang baik ini konteks surat menjelaskan, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat..” Dan di bawah naungan pohon yang buruk, tercabut dari atas tanah, tidak bisa berdiri dengan mantap dan kokoh itu konteks surat menjelaskan, “Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim..” Dengan demikian, naungan ungkapan dan naungan makna menjadi serasi di dalam konteks surat!

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan di akhirat dengan kalimat iman yang mantap di dalam hati, yang kokoh di dalam fitrah, dan yang membuahkan amal shaleh yang selalu baru dan abadi dalam kehidupan. Allah meneguhkan mereka dengan kalimat-kalimat al-Qur’an dan kalimat-kalimat Rasul; dengan janji-Nya untuk memberi pertolongan di dunia dan kemenangan di akhirat. Seluruhnya adalah kalimat-kalimat yang kokoh, jujur, dan benar, tidak bertentangan, tidak bercabang jalannya, dan empunya tidak dihinggari rasa cemas, bingung, dan tergoncang.

Allah menyesatkan orang-orang zhalim karena kezhaliman dan syirik yang mereka lakukan (kata zhalim dalam konteks al-Qur’an sering dan lazim digunakan untuk arti syirik), jauhnya mereka dari cahaya yang memberi petunjuk, goncangnya mereka di dalam labirin kegelapan, prasangka, mitos, dan tunduknya mereka terhadap berbagai manhaj dan aturan yang bersumber dari hawa nafsu dan bukan pilihan Allah. Allah menyesatkan mereka sesuai sunnah-Nya yang berlaku pada orang yang zhalim, buta terhadap cahaya, dan tunduk kepada hawa nafsu. Allah mengarahkan mereka kepada kesesatan, kebingungan, dan ketelantaran.

“Dan memperbuat apa yang Dia kehendaki..”

Dengan kehendak-Nya yang mutlak, yang memilih undang-undang, dimana kehendak-Nya itu tidak terikat dengan undang-undang tersebut, melainkan meridhainya, sampai hikmah Allah menuntut perubahannya dalam bingkai kehendak yang tidak bisa dihalangi oleh satu kekuatan, dan tidak tercegah oleh suatu penghalang. Setiap perkara di alam semesta ini terlaksana sesuai apa yang dikehendaki-Nya.
Dengan penutup inilah kisah terbesar tentang risalah dan dakwah ini diulas. Ia telah mengambil separo yang pertama dan terbesar dari surat yang dinamai dengan nama Bapak para Nabi, yaitu Ibrahim. Pohon yang rimbun, lebat, dan menghasilkan buah yang terbaik; kalimat yang baik, selalu baru di dalam generasi-generasi yang silih berganti, semuanya mengandung hakikat yang besar ini, hakikat satu risalah yang tidak tergantikan, hakikat satu dakwah yang tidak berubah, dan hakikat tauhid kepada Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.

Sekarang, mari kita melakukan perenungan-perenungan singkat mengenai hakikat-hakikat yang dipaparkan kisah para Rasul bersama jahiliyah. Itulah hakikat-hakikat yang kami isyaratkan secara cepat di tengah pemaparan konteks surat, dan kami berpikir bahwa ia memerlukan perenungan-perenungan tersendiri.

Dari kisah ini kita menemukan sebuah hakikat primer yang menonjol yang dituturkan Allah yang Mahabijaksana lagi Maha Mengenal kepada kita. Sesungguhnya parade iman sejak fajar sejarah manusia merupakan satu parade yang bersambung, dipandu oleh Rasul-Rasul Allah yang mulia, menyerukan satu hakikat, menyuarakan satu dakwah, dan berjalan di atas satu manhaj. Mereka semua menyerukan satu uluhiyyah dan satu rububiyyah; dan mereka tidak menyeru seseorang selain Allah, tidak bertawakkal pada seseorang kecuali pada-Nya, tidak mencari perlindungan kepada kepada-Nya, dan tidak mengenal sandaran selain-Nya.

Jadi, perkara keyakinan tentang Allah yang Maha Esa itu tidak seperti anggapan para “ahli perbandingan agama”, bahwa ia berkembang dan meningkat dari politheisme menjadi henotheisme lalu menjadi monotheisme; dari menyembah totem, roh, dan bintang menjadi menyembah Allah yang Maha Esa. Dan bahwa keyakinan tersebut berkembang dan meningkat seiring perkembangan dan peningkatan pengalaman dan pengetahuan manusia, juga seiring perkembangan dan peningkatan sistem politik yang berakhir pada tatanan integral di bawah satu penguasa…