Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Dialog Antara Mujahid dan Oportunis

Kamis, 01 Oktober 2009

Granada, kota terakhir yang dimiliki muslimin dikepung oleh Tentara Kristen. Jumlahnya cukup besar; 40.000 infanteri dan 10.000 kavaleri, ini masih ditambah jumlah bantuan yang terus berdatangan.

Masyarakat muslim ketika itu dipimpin oleh dua tokoh. Pertama adalah Amir Granada Ibnu Ahmar Abu Abdillah al-Shaghir dan Musa bin Abi Ghassan pemimpin jihad melawan Kristen. Dua nama yang sangat berbeda. Ibnu Ahmar al-Shaghir, persis seperti namanya. Dia al-Shaghir (kecil) otaknya, semangat jihadnya, imannya. Sementara Musa bin Abi Ghassan adalah mujahid agung yang memimpin jihad masyarakat muslim melawan kerajaan-kerajaan Kristen. Musa adalah simbol jihad, simbol aqidah kokoh tanpa mengenal kompromi.

Saat Granada sudah dikepung sedemikian rupa, dua tokoh ini berbeda pendapat. Sesungguhnya ini bukan sekadar perbedaan pendapat biasa. Tetapi sebenarnya, diam-diam Ibnu Ahmar al-Shaghir telah membuat kesepakatan dengan kerajaan Kristen Qostala untuk menyerahkan Granada dengan imbalan. Begitulah, pengkhianatan yang dilakukan di luar pengetahuan masyarakatnya itu memang tidak terlihat. Tetapi gejalanya sangat kentara. Sikap Ibnu Ahmar al-Shaghir terhadap keadaan masa itu merupakan terjemahan dari trik jahat yang dirahasiakannya.

Sementara iman yang terus membara di hati Musa, pasti secara otomatis menolak semua pengkhianatan tersebut. Musa dengan masyarakat mujahid siap membela setiap jengkal negeri muslim. Tidak ada kata menyerah pada keadaan. Tiada kata kompromi jika harus menjual agama. Musa bin Abi Ghassan benar-benar menjadi simbol jihad kala itu. Walau sayang nama mulia itu hampir tidak singgah di benak kita hari ini.

Ibnu Ahmar al-Shaghir benar-benar telah kalap. Dia sangat tergiur dengan cara penyelamatan diri yang mengorbankan agama Allah. Diserahkan kunci Granada kepada kerajaan Kristen, sementara dia tetap bertengger sebagai pemimpin dengan jaminan keamanan dan berikut pundi-pundi dunia lainnya. Rendah. Cara berpikir yang amat murah.

Keputusan orang nomor satu di dalam jamaah muslimin itu diamini oleh kerakusan para pejabat berikut ulama di sekitarnya. Bahkan penandatangan penyerahan Granada itu diwakili oleh menterinya yang bernama Abul Qasim Abdul Malik. Sementara penjabat lain juga sama menyetujuinya. Sesungguhnya yang sedang bicara adalah syahwat yang menggelegak yang telah membakar setiap selaput iman mereka.

Istana al-Hamra’ hari itu menjadi saksi. Saksi dialog antara mujahid dan oportunis alias pengkhianat umat. Musa bin Abi Ghassan datang dan langsung naik ke istana al-Hamra’. Dia menemui Ibnu Ahmar al-Shaghir dan para pejabat serta ulama di sekelilingnya yang sudah sangat nyaman dengan keputusan yang diambilnya. Musa bicara. Di hadapan semua. Di hadapan para pejabat dan disaksikan oleh sebagian masyarakatnya. Dengan keberanian yang tidak menyisakan segumpal ketakutan. Hanya Allah yang layak ditakuti. Begitulah aqidah seringkali meminta bukti keberanian dari para ulama dan mujahid. Untuk membedakan antara mutiara dan lumpur.

Dan mari kita dengarkan langsung dialog antara mujahid Musa bin Abi Ghassan dan para oportunis Ibnu Ahmar al-Shaghir dan para pejabat berikut ulamanya.

Musa bin Abi Ghassan, “Jangan serahkan Granada, biarkan kami berjihad fi sabilillah, biarkan kami berperang fi sabilillah!”

Ibnu Ahmar & para pejabat, “Orang-orang Kristen menawarkan kepada kita perjanjian kesepakatan. Dengan perjanjian itu, kita bisa menjaga eksistensi muslimin. Agar tidak ada kejahatan dan keburukan yang menyentuh muslimin. Maka mari serahkan Andalus, agar kita bisa menjaga yang kita miliki sekarang ini dengan perjanjian dan kesepakatan.”

Musa bin Abi Ghassan, “Jangan sampai kalian bersandar kepada orang-orang Kristen itu. Jangan sampai kalian percaya kepada orang-orang Kristen itu.”

Musa pun melanjutkan, “Kalian jangan menipu diri sendiri. Jangan kalian menyangka kalau orang-orang Kristen itu akan memenuhi janji mereka. Jangan sampai kalian percaya pada raja mereka yang curang. Kematian hal kecil yang kita takutkan. Kita akan menghadapi penjarahan dan penghancuran kota-kota kita, pengotoran masjid-masjid kita, perobohan rumah-rumah kita, pemerkosaan istri-istri dan anak-anak kita. Kita juga akan mengalami kedzaliman yang keji, fanatisme liar, cambuk dan rantai-rantai. Di hadapan kita juga ada penjara dan pembakaran.”

Musa akhirnya menegaskan sikapnya, “Adapun saya demi Allah tidak akan pernah menyaksikan itu semua! Saya tidak pernah menerima kehinaan dan saya akan mati dengan cara mulia!!!”

Abu Abdillah al-Shaghir berdiri dari tempat duduknya kemudian berkata, “Allahu Akbar, lailaha illallah, Muhammadur rasulullah, tidak ada yang bisa menolak ketentuan Allah, usaha kita sia-sia begitu saja berhadapan kehendak ilahi. Demi Allah, saya ini telah ditakdirkan sebagai orang yang sengsara dan kerajaan ini akan hilang di tangan saya.”

Para menteri berdasarkan dalil-dalil yang disampaikan oleh ulama jahat menguatkan, “Allahu Akbar, tidak ada cara yang bisa menghadapi ketentuan Allah.”

Melihat perbedaan prinsip yang sangat mendasar tersebut, Musa bin Abi Ghassan meninggalkan mereka berikut semua syahwat dan kerakusan mereka. Dia tinggalkan itu menuju keridhaan Allah dan kemenangan penuh izzah di hadapan Allah.

Musa keluar dari al-Hamra’. Ia langsung mengendarai kudanya, menghunuskan pedangnya. Menggerakkan muslimin yang masih siap berjihad. Menghadapi pasukan Kristen yang sudah berniat menguasai Granada. Ia terus berperang, hingga akhirnya Musa seorang diri harus berhadapan dengan 15 tentara Kristen. Musa berhasil membunuh sebagian besar tentara itu. Tapi akhirnya ia gugur sebagai syahid.

Rahimakallah ya mujahid...

Dialog Sepanjang Zaman

Dialog antara para dai mujahid dengan oportunis akan terjadi di sepanjang zaman. Sikap yang menunjukkan siapa kita sebenarnya. Sikap yang menentukan kita ada di barisan siapa. Penentuannya sering terbukti pada dua suasana: suasana genting atau justru sebaliknya; suasana banyak harta dan kesempatan.

Kisah penutupan Andalus adalah gabungan antara dua suasana. Suasana genting saat musuh mengancam dan saat dunia telah ditawarkan. Dan saat itulah muncul Musa sang mujahid dan Ibnu Ahmar al-Shaghir sang oportunis.

Tataplah lebih dalam kalimat-kalimat dialog di atas. Hingga kalimat dialog pun terulang sepanjang zaman. Setidaknya ada tiga alasa dan dalih para oportunis yang diambil dari pelajaran kisah di atas:

  1. Untuk menjaga eksistensi muslim dan dakwah
  2. Untuk mempertahankan yang kini telah kita miliki
  3. Ketidakberdayaan umat Islam berhadapan dengan musuh

Itu alasan. Sekali lagi dalih saja. Hanya cover. Sebenarnya adalah penandatanganan penyerahan umat dan dakwah dengan berbagai tawaran dunia. Walau umat tidak tahu. Walau umat tidak pernah melihat.

Perjanjian penyerahan Granada antara Abu Abdillah Al Shaghir diwakili menterinya Abul Qasim dengan Fernando dan Isabela.

Tapi hanya tinggal waktu. Saat sebuah masa tiba, mengungkap semua hal yang dilakukan para pengkhianat itu. Seperti pengkhianat Ibnu Ahmar al-Shaghir dan semua antek-anteknya itu dibuka oleh zaman. Dokumen itu masih diabadikan oleh Kerajaan Kristen dan hari ini masih tersimpan rapi di Madrid Spanyol. Agar muslimin belajar. Agar sejarah pengkhianatan tak terulang lagi.

Dan selalu, para mujahid sejati memilih hidup mulia atau mati syahid. Para mujahid tidak akan pernah rela dengan hidup penuh kehinaan. Mereka akan meraih kemenangan penuh izzah.
Sepanjang zaman selalu hadir mujahid dengan kalimat yang mirip.

“Adapun saya demi Allah tidak akan pernah menyaksikan itu semua! Saya tidak pernah menerima kehinaan dan saya akan mati dengan cara mulia!!!” (Musa bin Abi Ghassan)

“Akhi, saya tidak pernah bosan dengan jihad ini. Aku tidak pernah meletakkan senjata. Jika aku mati, maka telah kuraih syahidku. Dan kamu akan melanjutkan raih kemenangan mulia.” (Sayyid Quthb).

Pengkhianat Peradaban

Hari itu, hari Jum’at. Seharusnya menjadi hari yang baik bagi muslimin. Tepatnya tanggal 7 Shafar 656 H. Kota Baghdad, pusat peradaban dunia terbesar masa itu. Ibukota Khilafah Abbasiyyah yang telah 5 abad memakmurkan bumi ini dengan peradaban dan ilmu.

Hari Jum’at itu justru puncak kehancuran wilayah khilafah dan akhir dari keseluruhan kebesaran. Untuk selamanya. Hulaghu Khan pemimpin pasukan Mongolia hari itu datang masuk ke dalam istana Khilafah terakhir Abbasiyyah, Musta’shim billah. Dia datang beserta istrinya dan para pengawalnya. Seluruh elemen kekhilafahan telah lumpuh. Khalifah sudah menyerah. Hulaghu meminta Musta’shim menunjukkan semua simpanan kekayaan di istananya. Dengan sangat hina, Musta’shim menunjukkan semua kekayaannya dalam istana. Kemudian Hulaghu membagikan perhiasan dan kekayaan itu kepada istrinya dan para pengawal dekatnya.

Sudah satu minggu, Kota Baghdad dihancurkan dari berbagai sudutnya. Musibah kemanusiaan yang tidak mengenal satu kecap pun kata kasihan. Begitulah kekejaman pasukan Mongolia.

Tembok kota dihancurkan. Setiap yang datang dibunuh. Setiap yang menyerah pun dibunuh. Pembunuhan besar-besar itu disaksikan oleh Sungai Dijlah. 3 hari Sungai Dijlah berwarna merah darah. Juga jalanan Kota Baghdad. Banjir darah.

Anak-anak dan wanita memohon belas kasihan di bawah kuda-kuda pasukan Mongolia untuk dimaafkan dan agar tidak dibunuh, dengan al-Qur’an di tangan-tangan mereka. Tetapi kuda-kuda Mongol menginjak-injak semuanya. Diinjak-injak tanpa secuil pun rasa kasihan. Sebelum akhirnya pedang-pedang pun, mereka ayunkan kepada setiap anak dan wanita.

Mereka yang sakit terbaring di rumah sakit tidak luput merasakan kekejaman yang belum pernah disaksikan oleh kekejaman bangsa manapun. Tidak ada satupun yang selamat. Semuanya harus mengakhiri ajalnya di ujung pedang Mongolia.

Satu minggu itu, setidaknya 400.000 nyawa melayang. Termasuk khalifah Musta’shim dan seluruh anak serta kerabatnya.

Bukan hanya pembantaian muslimin. Peradaban yang dibangun berabad-abad, ilmu yang menerangi dunia juga ikut dihancurkan. Lagi-lagi Sungai Dijlah menjadi saksi bisu. Pasukan Mongolia menyeberang sungai Dijlah dengan menggunakan tumpukan buku. Kuda-kuda Mongol menginjak-injak buku-buku ilmu.

Masjid-masjid diruntuhkan. Rendah sekali syahwat Mongolia, yaitu mengambili pernik-pernik masjid yang terbuat dari emas di kubah-kubahnya. Istana-istana juga dihancurkan untuk dirampas semua kekayaan berupa harta benda dan perhiasan.

Kota dibakar. Gedung, masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit. Kehancuran total.

Hulaghu Khan akhirnya menghentikan pembunuhan. Penghentian itu dikarenakan bau anyir darah dan bekas puing-puing penghancuran dan pembakaran menyebabkan polusi dan penyebaran wabah penyakit. Hulaghu mengkhawatirkan kesehatan pasukannya, sehingga dia memerintahkan penguburan mayat manusia dan binatang.

Dan Baghdad pun hancur lebur. Pusat kebesaran Islam itu. Ibukota Khilafah Abbasiyyah itu. Khilafah Abbasiyyah diakhiri dengan cara yang sangat mengiris-iris hati. Baghdad dihabisi dengan cara yang sangat mudah. Kebesaran itu runtuh dengan begitu sederhana. Tidak ada kota sebegitu mudah diruntuhkan, semudah Baghdad.

La haula wa quwwata illa billah...

Innalillah wa inna ilahi raji’un...

Seharusnya Baghad tidak runtuh. Semestinya Khilafah Abbasiyyah tidak hilang. Kalau tidak muncul pengkhianat besar di tubuh kekhilafahan. Kalau saja tidak ada pengkhianat umat.

Muayyaduddin Ibnul ‘Alqami. Nama pengkhianat yang hingga akhir zaman akan selalu disebut dalam sejarah Islam sebagai pengkhianat peradaban, pengkhianat umat. Ibnul ‘Alqami bukan sembarang orang. Dia adalah perdana menteri di kekhilafahan Abbasiyyah.

Sebelum pengkhianatan Ibnul ‘Alqami, sesungguhnya para amir wilayah sekitar Baghdad telah lebih dahulu menjadi pengkhianat umat. Mereka bersatu dan bersedia bahkan ada yang berangkat sendiri untuk membantu pasukan Mongolia menghancurkan muslimin sendiri.

Tetapi puncak semua pengkhianatan itu adalah tokoh terdekat dengan pusat. Di Kota Baghdad yang dikenal kuat. Ibnul ‘Alqami diam-diam membangun hubungan haram dengan Hulaghu. Pengkhianat umat itu menjual Baghdad dengan tukaran di antaranya adalah jabatan jika Hulaghu berhasil menguasai Baghdad. Rencana demi rencana jahat dilakukannya. Sementara khalifah asyik menikmati goyangan artis dan berpesta pora.

Begitulah. Dan sejarah pun mengulang dirinya. Andalus mempunyai kisah yang mirip. Karena memang sejarah selalu sama di zaman manapun.

Kota terakhir yang masih kuat berdiri saat seluruh kota-kota wilayah Andalus telah menyerah di tangan negara-negara Kristen adalah Granada. Kota itu masih sangat kuat bertahan, gagah dan terus membangun.

Tetapi akhirnya Granada pun menyerah. Khilafah Islamiyyah di Eropa selatan tutup hingga hari ini (semoga Allah memberi kita kesempatan untuk melihat kembalinya Eropa ke tangan muslimin - amin).

Dan sejarah terulang lagi. Granada runtuh karena pengkhianat peradaban ada dalam tubuh muslimin. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah pemimpin muslimin, tetapi merangkap pengkhianat umat.

Tiga nama yang diabadikan sejarah hingga hari akhir nanti sebagai pengkhianat umat. Catatan itu tidak akan pernah bisa dihapus. Dua orang menteri: Yusuf bin Kamasyah dan Abul Qasim al-Malih, serta satu tokoh agama: al-Baqini.

Umat dijual. Negeri muslim digadaikan. Diserahkan kepada negara Kristen. Ditukar dengan sampah dunia.

Raja Fernando 3 dan Ratu Isabella memasang salib besar dari perak di pasang di atas Istana al-Hamra’ dan diumumkan bahwa hari itu adalah akhir dari kekuasaan muslim di Andalus.

Tahun 1499 M, masjid-masjid resmi ditutup.

Sesungguhnya ini bukan akhir dari perjalanan muslimin di Andalus. Perjuangan sekelompok mujahidin muslimin terus digelorakan, mencoba mengambil alih Granada. Perjuangan itu ada pasang surutnya.

Perjuangan itu bukan tidak ada hasilnya. Beberapa wilayah di sekitar Andalus sempat berhasil dikuasai muslimin.

Ibnu Abbu adalah pemimpin terakhir kelompok mujahidin yang terus dikejar-kejar oleh pasukan Kristen. Tetapi mereka tidak pernah berhasil menyentuh Ibnu Abbu.

Lagi, sejarah terulang. Pengkhianat internal penyebabnya. Ibnu Abbu syahid bukan di tangan pasukan Kristen. Tetapi dibunuh oleh seorang muslim yang bernama Syurais, yang anak dan istrinya ditawan oleh pasukan Kristen. Syurais dijanjikan bahwa anak istrinya akan dibebaskan jika ia berhasil membunuh Ibnu Abbu. Dan pengkhianat itupun melakukannya.

Ibnu Abbu telah syahid. Dan akhirnya semuanya terhenti. Semua perjuangan muslimin berakhir. Muslimin harus mati atau menjadi budak. Akhir seluruh perjalanan muslimin di Andalus.

Maha benar Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap Khawwan lagi Kafur.” (Qs. Al-Hajj: 38)

Khawwan adalah pengkhianat besar. Kafur adalah orang dengan kekafiran besar atau pengingkar nikmat.

Setidaknya ada 2 pelajaran besar dari ayat agung tersebut:

1. Hanya Allah yang menjaga jamaah orang-orang beriman. Bukti penjagaan Allah, dengan tidak menyelinapnya khawwan dan kafur. Jika telah hadir dua kelompok tersebut, berarti jamaah mukminin tersebut sudah ditinggal Allah. Sekaligus bukti bahwa Allah sudah tidak ridha, sehingga tidak lagi ada penjagaan-Nya.

2. Khawwan lebih dahulu disebut sebelum kafur. Dan selalu begitu. Para pengkhianat selalu menjadi mukaddimah untuk kehancuran jamaah orang-orang beriman yang berakhir di tangan orang-orang kafir.

Ibnul ‘Alqami, Yusuf bin Kamasyah, Abul Qasim al-Malih, al-Baqini, Syurais. Nama-nama para pengkhianat peradaban.

Nama-nama yang berbeda akan terus bermunculan sepanjang zaman. Hingga hari ini. Di tubuh muslimin. Para tokohnya…

Sebagai pengkhianat peradaban! Sebagai pengkhianat umat!

Shalat Ashar di Aya Sophia

Hari ini, Ayasophia tak lagi berfungsi sebagai masjid. Kita kehilangan simbol besar kemenangan umat Islam di Turki.

Sudah 11 kali ujicoba sepanjang 8 abad. Kesemuanya gagal. Bahkan di bawah benteng Konstantinopel itu, dimakamkan seorang mujahid yang juga shahabat Nabi; Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu anhu. Semua ujicoba itu untuk membuktikan janji Nabi dan meraih kebesaran dalam sabda beliau,
“Kalian pasti akan menaklukkan Konstantinopel, pemimpinnya adalah pemimpin istimewa dan pasukannya adalah pasukan istimewa.” (HR. Ahmad)

Muhammad al-Fatih. Dialah pemenang hadits Nabi tersebut. Anak muda itu dengan sangat dramatik dan heroik menjebol ketebalan dan ketangguhan benteng legendaris Konstantinopel.

Hari Selasa siang. Saat terlihat orang-orang Kristen berjubel keluar dari Gereja Ortodoks terbesar, Ayasophia. Nampak mereka menghela napas lega. Wajah mereka lusuh tapi tidak bisa menyembunyikan kesenangan. Pasti yang terbayang di benak mereka adalah perbandingan antara tentara mereka ketika memasuki negeri muslim yang selalu menumpahkan darah. Sementara siang itu, Muhammad al-Fatih mengumumkan di dalam gereja bahwa mereka semua dibebaskan. Tak ada yang dilukai. Tak ada yang dijadikan budak. Tak ada yang dibunuh. Bebas menentukan langkah. Boleh tetap tinggal di kota itu bersama muslimin atau pindah ke kota lain.

Hari itu tanggal 20 Jumadil Ula 857 H, tepatnya 29 mei 1453 M. Shalat Asar adalah shalat pertama yang dilakukan di Konstantinopel tepatnya di Masjid Ayasophia.

Hampir Saja Kemenangan Itu Sirna

Sebelum kemenangan besar itu, persiapan yang dilakukan oleh Muhammad al-Fatih sangatlah panjang dan serius. Tidak tanggung-tanggung. Dari meriam dengan berat berton-ton dibuat oleh pakar yang sengaja didatangkan dari jauh. Hingga benteng al-Fatih yang besar dan kokoh di pinggir Selat Bosphorus. Tak hanya itu, 400 kapal perang pun diproduksi di sekitar Selat Bosphorus.

Pembangunan benteng dan semua persiapan al-Fatih, sangat mengusik Konstantinopel. Mereka sangat takut dan khawatir, karena mereka tahu berhadapan dengan siapa; negeri muslim yang tidak tertandingi di dunia saat itu. Mereka pun tahu tujuan pembangunan benteng gagah dan pembuatan ratusan kapal perang itu.

Kekhawatiran yang menyeruak di hati para pemimpin Konstantinopel itu membuat mereka memutar otak. Bagaimana caranya agar muslimin menghentikan pembangunan benteng yang masih terus berjalan. Dan mereka pun menemukan jurus ampuh untuk menghentikan semua. Selalu saja jurus itu terulang sepanjang sejarah Islam. Dan selalu saja jurus itu sangat ampuh memporak-porandakan bangunan rapi dan kuat sebuah jamaah Islam. Negosiasi dunia. Ya, menjual umat dan dakwah dengan harta. Menjadi pengkhianat dakwah dan umat.

Pantas jika kemurkaan Allah bertubi-tubi kepada jenis orang seperti ini,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Qs. Al-Baqarah: 174)

4 jenis adzab yang...naudzubillah min dzalik...

Para pemimpin Konstantinopel sangat tahu harus membidik siapa. Siapa lagi kalau bukan para petinggi Kesultanan Turki Utsmani dan pemimpin tertingginya Muhammad al-Fatih. Pundi-pundi harta, perhiasan gemerlapan dalam jumlah yang sangat besar ditawarkan kepada para petinggi negeri muslim itu. Semuanya akan diberikan. Hanya dengan satu syarat: Hentikan jihad!

Nah, kesempatan itu terbuka. Kesempatan ‘manis’ untuk menjadi pengkhianat dakwah dan umat. Kalau saja para petinggi Utsmani tergiur ketika itu, maka tak akan pernah mereka meraih kebesaran yang disampaikan Nabi dalam hadits tersebut di atas.

Tetapi mereka semua adalah orang yang telah komitmen untuk menepis semua pengkhianatan terhadap umat dan memilih kemenangan mulia dari Allah. Di bawah kepemimpinan kuat dan shaleh Muhammad al-Fatih. Dan hasilnya, benteng legendaris Konstantinopel takluk dengan drama yang menakjubkan dan heroik. Kemenangan gemilang itu datang. Kemenangan yang dijanjikan Rasul 8 abad lalu hadir. Dengan dikuburnya pengkhianatan terhadap umat.

Maka kita semakin paham mengapa Rasulullah memuji al-Fatih 8 abad sebelum ia lahir, “...Panglima yang hebat...!”

Muaranya Adalah Rasulullah...

Semua keteguhan al-Fatih dan pasukannya adalah semangat besar yang bisa kita lihat pada Rasulullah. Sumber semua keteguhan. Sumber semua keteladanan.

Dakwah Islam di Mekah ketika itu, tidak bisa dibendung perkembangannya. Berbagai upaya thoghut menghentikan dakwah tidak membuahkan hasil. Bahasa lembut meminta baik-baik agar dakwah dihentikan sudah mereka lakukan. Ancaman kepada pemimpin tertinggi dakwah; Rasulullah, sudah mereka keluarkan. Hasilnya justru mengejutkan. Hanya dalam 3 hari saja, dua tokoh besar Quraisy menyatakan diri bergabung dengan barisan Rasulullah; Hamzah kemudian Umar radhiallahu anhuma. Mekah gempar!

Dakwah tidak bisa dihentikan. Maka, mereka mengeluarkan jurus jitu itu. Setelah kesepakatan rahasia di antara musuh Islam, maka jubir mereka Abul Walid Utbah bin Rabiah menghadap Rasulullah. Membawa segepok tawaran dunia.

Mari kita ikuti ‘kalimat manis’ penghancur dakwah, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya Anda –sebagaimana yang Anda ketahui- berasal dari keluarga yang baik, nasab yang mulia. Anda telah membawa hal baru yang menghebohkan, yang membelah kebersamaan mereka, melenyapkan impian mereka, merendahkan tuhan dan agama mereka, mengkafirkan nenek moyang mereka. Maka dengarkanlah aku, aku tawarkan sesuatu, semoga Anda bisa menerima sebagiannya."

Rasulullah, “Katakan hai Abul Walid, aku dengarkan.”

Abul Walid, “Wahai anak saudaraku, jika yang Anda inginkan dari semua ini adalah harta, kita siap mengumpulkan harta-harta kami untukmu hingga Anda menjadi orang yang paling berharta di antara kami. Jika Anda ingin kemuliaan, kita jadikan Anda tokoh kami dan kami tidak memutuskan masalah tanpamu. Jika Anda ingin kekuasaan, kami jadikan Anda penguasa kami. Tetapi jika itu adalah gangguan yang tidak bisa Anda lawan, kita carikan tabib untuk mengobati Anda. Kita akan keluarkan biaya dari harta kami hingga Anda sembuh.”

Rasulullah, “Sudah selesai hai Abul Walid?”

Abul Walid, “Sudah.”

Rasulullah, “Sekarang, dengarkan saya!”

Dan inilah jawaban Qur’ani yang menegaskan sikap Rasulullah yang tidak mungkin menjadi pengkhianat penjual dakwah.

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." (Qs. Fushshilat: 1-5)

Nabi terus membaca ayat demi ayat hingga sampai ayat sajdah dalam surat tersebut. Nabi pun bersujud. Kemudian berkata, “Abul Walid, Anda sudah mendengar. Itulah Anda!”

Tegas sekali. Rasulullah tegas menolak negosiasi dunia untuk menggadaikan dakwah ini.

Sejarah Pasti Berulang

Kita mesti belajar langsung dari Rasulullah dan dari orang yang dipuji kehebatannya oleh Rasulullah; Muhammad al-Fatih.

Rasulullah wafat dan Madinah telah menjadi negara Islam yang kokoh. Kemenangan demi kemenangan terus diukir oleh para alumni tarbiyah Rasulullah.

Muhammad al-Fatih wafat dan kebesaran kesultanan Turki Utsmani, terutama penaklukan bersejarah benteng Konstantinopel begitu harum dan menyeruak sepanjang zaman.

Rasulullah dan al-Fatih menolak mentah-mentah negosiasi dunia. Tegas mengubur pengkhianatan dengan semua variabelnya.

Kemenangan penuh izzah pun memihak mereka. Kemenangan yang selalu dicatat harum oleh sejarah. Dan sejarah pun berulang. Nashran ‘Aziza (kemenangan penuh izzah) akan diraih oleh muslimin, manakala para petingginya tahan terhadap berbagai macam tawaran gemerlap dunia dari musuh dakwah.

Hari ini, Ayasophia tak lagi berfungsi sebagai masjid. Kita kehilangan simbol besar kemenangan umat Islam di Turki.

Para pemimpin muslimin harus berani berkata tidak pada pengkhianatan dakwah dan umat. Agar kita bisa Shalat Asar di Masjid Ayasophia. Seperti Muhammad al-Fatih.

sumber: eamuslim.com